Search This Blog

Loading...
Your Ad Here

terkini

18 August 2008

Cerpen : Dear Diary

Ada pintu kecil yang senantiasa tertutup di dalam diri kita.
Keegoisan dan kecurigaan adalah palang abadi yang mengunci, dan mengurung hati mereka dalam sunyi dan sepi luar biasa. Ikhlas menerima dan ulurkan tangan bagi mereka, akan mementangkan pintu kecil yang bernama nurani di dalam hati kita.
Mereka sahabat kita, bagian dari kita. Mereka bukan musuh kita dan bukan sampah di pelupuk mata. Mereka adalah saudara kita.

Puisi dedikasi buat pengidap HIV/AIDS (ODHA) yang terkucil


Medan, sore itu kelihatan mendung. Awan berarak gelisah. Menyelimuti sebagian gedung pencakar langit dan membuat payung hitam di atasnya.
Reanita, seorang gadis yang baru menanjak dewasa berusia delapan belas tahun. Berdiri di sudut kamar dan membuka gorden kamarnya seraya menatap jauh sudut kota Medan. Melihat awan hitam yang semakin gelap. Mendung dan sebentar lagi pasti akan turun hujan. Padahal Reanita sangat menginginkan hari ini langit cerah dan penuh bintang di angkasa. Reanita kembali memperhatikan langit yang tidak bersahabat. Kemudian mendesah pelan dengan nafas yang semakin berat.
Reanita kembali ke pembaringan. Mengambil buku diarynya di atas bupet, lalu membacanya sambil tersenyum tipis. Sedikit berurai airmata.

Dear Diary, Desember 2005
Hari ini aku sedang jatuh cinta. Seorang cowok beralis tebal dan wajahnya yang rupawan tengah menggodaku. Dia adalah Revo. Cowok yang ku kenal melalui dunia maya. Seorang anak band yang kini tinggal di Jakarta. Aku sangat mengaggumi sosoknya. Mmm.....dia sangat menawan. 
Reanita membuka lembar-demi lembar buku hariannya. Di sana dia menulis sejuta puisi pada kertas-kertas putih sambil menerawang jauh. Berjuta puisi dilantunkan begitu indah. Menaungi ruang-ruang kamar dengan sentuhan yang sangat abstrak. Membuka jendela-jendela hatinya. Memecahkan gelas-gelas agar penuh dengan irama.
Reanita mengambil penanya dan menorehkan sebagian ungkapan hatinya pada sang diary. Penanya menari-nari seperti ballerina di atas lembaran-lembaran berwarna merah jambu bercorak bunga-bunga. Merangkai kata demi kata hingga menjadi bait-bait puisi yang indah.
Aku telah menyaksikan sendiri betapa dahsyatnya ayat-ayat cinta. Betapa besarnya rasa ingin memiliki Maria. Tapi cinta dan rasa ingin memiliki itu berbeda. Tidak ada yang salah dengan cinta, biarkan cinta datang dengan sendirinya. Mengetuk pintu hati agar menerima kehadirannya. Membuat jendela-jendela dan ruang yang indah.

Beberapa tahun lalu, Reanita berkenalan dengan Revo saat ia liburan ke Jakarta. Reanita sangat mencintai Revo. Tapi mama tidak merestui hubungan Reanita dengan Revo, karena mama sudah mencalonkan Reanita dengan laki-laki lain. Reanita tidak menerima perjodohan itu. Dia pun nekat minggat dari rumah demi menemui Revo di Jakarta. Menginap beberapa hari di apartemen milik Revo.
Reanita mereguk kenikmatan bercinta bersama Revo. Tidak perduli burung-burung gagak menceracau bersama kegelapan malam yang gulita. Menyaksikan kemurkaan dua insan anak manusia yang durjana.
Reanita menghela nafas dengan berat. Reanita beringsut dari jendela kamar menuju pembaringannya dengan mata sayu. Beberapa bulan lalu saat kondisi Reanita melemah, dokter memvonis Reanita bahwa ia telah mengidap HIV positip. Pengaruh obat-obat terlarang dan jarum suntik yang bergantian. Penyakit itu ditularkan oleh cowok yang selama ini ia cintai. Dia adalah Revo. Cowok yang bergabung dalam group band ternama di kotanya. Cowok itu penggemar obat-obat terlarang dan jarum suntik yang bergantian. Ia sengaja menyuntikkan racun itu ke tubuh Reanita saat ia terlelap. Revo adalah biang keladi dari semua kejadian itu.
Untaian airmata penyesalan pun jatuh meleburkan bola mata Reanita yang dulu berbinar. Kini redup seperti bola lampu yang kekurangan arus listrik.
Andai saja dulu ia mengikuti nasehat mama dan papanya, mungkin nasifnya tidak seburuk ini. Betapa penyakit itu telah membuatnya patah semangat. Membuat ia kehilangan orang-orang yang ia sayangi. Reanita bukan saja kehilangan orangtuanya, teman-teman terbaiknya, tapi ia juga kehilangan Handrian. Laki-laki yang ingin ditunangkan papa dan mamanya.
Perlahan Reanita meraih bingkai foto di atas meja belajarnya. Lama ia memperhatikan foto itu sambil terisak sedih.

Dear Diary, Maret 2006
setetes embun pagi jatuh membasahi daun hijau
menggenangi sebagian sisinya
hati ini bagaikan daun-daun yang lagi bermunculan
berwarna hijau mudah nan segar
ah, aku ingin menjadi daun muda itu selamanya
yang akan selalu disentuh air hujan
dan disinari mentari pagi hingga lembayung muncul diufuk barat
tapi daun itu kini telah layu
ranting-ranting patah jatuh ke tanah
daun-daun berguguran, membuat tumpukan sampah
tidak ada hujan tidak ada angin
yang ada hanya kekeringan
tandus dan gersang
Reanita mendesah sembari berdo'a. "Ya, Allah, jika aku boleh meminta satu permintaan sekali saja. Berikan aku kehidupan, izinkan aku menunggu hingga tahun depan. Ya, Allah hidup dan mati ada ditanga-MU. Salahkah aku jika aku meminta itu?" Reanita meratap lirih. Tetes-tetes air bening berkali-kali membanjiri matanya. Menawarkan lagi kesedihan di hatinya.
Reanita menatap langit hitam lewat jendela kamarnya. Mengenang kembali wajah sahabat-sahabatnya. Haruskah kehidupannya berakhir sampai disini?
Angin berhembus tipis. Menyapu seluruh bangunan pencakar langit di kota Medan. Menyentuh kulit halus yang kini mulai kisut. Mengibaskan gorden merah muda di kamar Reanita.
Malampun merambat jauh. Menelan seluruh mimpi-mimpi Reanita. Hujan turun semakin deras. Hawa dingin kembali menyibakkan rambut Reanita di sudut jendela. Perlahan ia menutup jendela kamarnya sambil termenung sejenak.
'Akankah hari esok lebih indah dari hari ini?' bisiknya pelan.
Dalam diam ia tertidur pulas menanti hari esok yang lebih berarti.
Dear Diary, April 2006
Aku ingin hari ini lebih indah dari hari kemarin. Aku tidak ingin memikirkan kematian dan kapan ajal menjemput. Aku hanya ingin tertidur dalam dekapan sang pencipta.
Dear Diary, di penghujung tahun 2007
Aku bagaikan bunga layu yang belum berkembang. Usiaku baru delapan belas tahun dan mungkin hanya sebatas itu. Aku sangat menyesal mengapa aku tidak menuruti nasehat mama dan papa. Andai saja waktu bisa berputar kembali, aku akan mengabdikan seluruh hidupku untuk papa dan mama.
Reanita meneteskan airmatanya. Reanita duduk di kursi yang ada di kamar penginapanya. Lalu menikmati ice-lemontea dari mugnya. Menyeruputnya beberapa kali dan merasakan kesegarannya. Lalu meletakkan mugnya di atas meja. Menatap kembali bias jingga dan merah sejurus matanya memandang.
Andai saja waktu bisa berputar kembali. Mungkin ia tidak akan pernah mengenal sosok Revo. Laki-laki yang telah membuat kehidupannya hancur lebur bersama keping-keping mimpi yang hanya sebuah kepalsuan cinta. Betapa dulu dia sangat mengagumi sosok Revo sebagai laki-laki sejati yang mampu melindungi dirinya. Tapi semua itu hanya kedok belaka. Reanita sakit hati karena perlakuannya.

Dear Diary, awal 2008.
Aku melihat semuanya serba putih. Di sekelilingku berwarna redup, tidak ada warna lain selain putih. Aku merasa kondisiku melemah. Kekebalan tubuhku semakin rapuh dan aku tidak berdaya. Andaipun aku harus pergi, aku ingin mereka menerimaku ditengah-tengah kehidupan mereka. Jangan kucilkan orang-orang sepertiku. Kami bukan sampah di pelupuk mata. Kami juga manusia yang harus diberi dukungan hidup. Hidup yang kami lalui sudah begitu pahit.

Mendadak saja tubuh Reanita mengenjang dengan mata tebalik. Nafasnya terlihat sesak dan berat. Mendadak saja ruangan berwarna hitam, gelam dan sunyi. Reanita melihat bayangan-bayangan malaikat menjemputnya dalam diam. Mengajaknya pada sebuah kegelapan yang tak berujung.

No comments:

Popular Posts